kemuliaan akhlak dalam islam


Dalam pandangan para humanis dan juga menurut kultur yang berkembang saat ini, setiap orang diklaim, karena ia manusia, mempunyai nilai alami kemuliaan, sekalipun misalnya pernah melakukan pembunuhan dan kejahatan. Berbeda dengan Islam yang memandang ada dua jenis kemuliaan, yaitu: kemuliaan umum, yakni bahwa setiap manusia tanpa peduli apa perilakunya memiliki kemuliaan. Kemuliaan jenis ini adalah kemuliaan ciptaan yang memang Allah Swt. telah menjadikan manusia sebagai ahsani-taqwim (QS. al-Tin (95): 4). Kemuliaan yang dimiliki manusia ini adalah karena manusia diberi akal pikiran sedang makhluk yang lain tidak.
Jenis kemuliaan yang kedua adalah kemuliaan yang dicapai dan dijangkau dengan kehendak dan pilihan bebas manusia. Di sinilah manusia akan dinilai siapa yang paling baik dan berlomba-lomba untuk beramal kebajikan. Dalam kemuliaan jenis ini manusia tidak semuanya sama. Bahkan jika seseorang tidak berusaha dan mengerjakan amal kebajikan bisa terjatuh derajatnya sedemikian rupa menjadi lebih rendah dari binatang.
Ketiga, kita ketahui bahwa Allah Swt. bukanlah wujud fisik, sehingga kebenaran kedekatan pada Allah Swt. adalah pada kedekatan batin dan intuitif dan pencapaian hubungan eksistensial dengan Dia. Dengan pertimbangan ini maka yang berperan utama dalam pendekatan manusia dengan Allah Swt. adalah kemampuan manusia untuk melihat dan menyaksikan dengan hatinya. Dan hubungan sukarela yang ditegakkan antara hati manusia dengan Allah Swt. dengan sarana perhatian kepada Allah Swt. Perhatian kepada Allah dalam hal ini adalah tidak lain dzikrul qalbi. Bila perhatian dan mengingat Allah Swt. dijadikan sumber bagi perilaku, ini dinilai sebagai niat. Dengan demikian tolok ukur ketiga ini menekankan bahwa akhlak itu akan menjadi amal mulia jika dalam melaksanakannnya benar-benar mendorong orang tersebut lebih mengingat dan berdzikir kepada Allah Swt.
Dari dorongan dzikir inilah yang kemudian akan menumbuhkan kekuatan rohani untuk menentukan arah tindakan perilaku dan memberi bobot nilai kualitas akhlak. Kriteria kemuliaan akhlak yang merupakan cerminan dari prinsip ihsan juga dituntut untuk memenuhi konsep dasar yang tercermin dari makna ihsan. Ihsan sebagaimana telah dijelaskan dalam bab kerangka dasar ajaran Islam, mengandung dua ajaran/rukun yang menjadi pangkal kebaikan, yaitu muraqabah dan muhasabah. Muraqabah arti sederhananya adalah senantiasa merasa mendapatkan pengawasan dari Allah Swt. Perasaaan ini muncul dari kedekatan dengan Allah Swt. yang dimanifestasikan dengan dzikir. Dengan kata lain seseorang akan dapat meningkatkan kualitas amalnya dengan menghadirkan Allah Swt. di dalam hatinya. Muhasabah adalah upaya seseorang untuk mengevaluasi diri, apakah benar-benar telah memenuhi kriteria kemuliaan atau bahkan menyimpang dan sia-sia. Apakah amalnya untuk hari ini lebih baik dengan hari kemarin atau bahkan lebih jelek, sehingga ia rugi dan terjatuh dalam laknat Allah Swt. Dengan prinsip muhasabah maka perilaku seseorang, baik dan buruknya, ditentukan melalui kesesuain dengan kriteria amal kebaikan yang harus dihitung dan ditimbang secara terus menerus.

Komentar